makmurPetikan Wawancara Harian Singgalang dengan Makmur Hendrik, Pengarang novel si Bungsu (Tikam Samurai). Terhitung 1 Desember 2008 , Singgalang berkenan memuat kembali novel tersebut secara bersambung.

Pengantar Redaksi:

Atas permintaan pembaca, yang ingin mengetahui bagaimana Makmur “si Bungsu” Hendrik lebih dekat, berikut kami turunkan hasil “interogasi” yang dilakukan “Singgalang” melalui gmail. Mudah-mudahan keinginan pembaca terpenuhi.* Redaksi.-

Singgalang (SGL): Halo, dimana tempat dan tanggal lahir Anda?

Makmur Hendrik (MH): Desa Adat Buluhcina, Kampar – Riau, tanggal 7 Juni 1947.

SGL: Heh, seluruh desa di Minangkabau adalah desa adat, tapi tak pernah dipanggakkan sebagai “desa adat”. Kok kampung Anda itu dipanggakkan benar?

MH: Kendati di Riau, tapi kampung saya itu kulturnya sama dengan Minangkabau. Suku menurut garis turunan Ibu. Punya ninik mamak, punya balai adat, punya ulayat yang masih terjaga utuh, tidak sepeti ulayat di Minang yang hampir punah dijuali, dan sering jadi sumber bala dan malapetaka.

Di Buluhcina ninik mamak dan anak kemenakannya sangat mengharamkan judi, minuman keras apalagi narkoba. Aturan itu berlaku nyata, ril!. Desa itu benar-benar bersih dari miras, judi dan narkoba, tanpa seorangpun polisi turun tangan. Larangan itu dipatuhi, tidak hanya sekedar tertulis dalam Al Quran atau hanya dalam petatah petitih para ninik mamak.

Ketua LKAM Sumbar, almarhum Datuak Simulie bersama Uda Nasrul Siddik pernah saya bawa ke kampung itu. Ketika mengetahui bahwa di kampung itu tak ada orang berjualan minuman keras, apapun mereknya, tak ada judi apalagi narkoba, beliau sampai menitikkan air mata dan berkata perlahan: “Kampuangko labiah Minang dari kampuang nan di Minang”. Apa ada desa di Minang yang semua penduduknya taat anti judi, anti narkoba dan miras? Maaf kalau saya salah, tapi rasanya ndak tuh!

SGL: Eh, tagisie awak mah! Oke malah, tapi kok Anda berani-beraninya menebak di Minang ndak ada desa yang sepertiBuluhcina itu. Awak “takok-takok isi manggih”saja, ya?

MH: Saya kan lebih dari 30 tahun di Sumbar. Mulai masuk STM di akhir Tahun 1964, tahun 66 menjadi Ketua KAPPI di Bukittinggi, sampai menjadi asisten dosen di IKIP (kini UNP) dan dosen di ATP (kini STTP) dan APP (publisistik) dan Ketua IPSI (Pencak Silat) selama 10 tahun (1980-1990). Hampir tak ada negeri di Minang ini yang belum saya jejak. Bagi saya Sumatera Barat adalah kampung kedua. Saya bersukur belajar dan menimba ilmu di Minang yang disebut “negeri orang-orang pandai”.

Jadi saya hafal benar kampong awak ini. Dimana-mana masih ada judi dan miras, malah anak muda dan orang dewasanya mulai pada menikmati narkoba. Saya tidak asal “takok-takok isi manggih”.

SGL: Baelah dek awak. Ha, ternyata Awak benar-benar rang Riau. Tapi kok mambagak dan mamandai-mandai membuat banyak sekali cerita silat Minang, seperti Tikam Samurai, Giring2 Perak, Palimo Agam, Intan Suri, apa pasal?

MH: Pertama, ajaran Minang yang berbunyi “dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, dima aie disauak di sinan rantiang dipatahkan, bakato di bawah-bawah – mandi di hilie-hilie” benar-benar saya jadikan suluh hidup, jika siang saya patungkek, malam saya pakalang. Tidak hanya sekedar palamak kato jo pamanih bibie. Ajaran itulah yang membuat saya jadi penulis. Banyak sekali gunung dan lurah, sungai, danau dan laut, sejarah dan legenda, mulai dari yang yang no name sampai yang kotemporer seperti penjajahan Belanda, Jepang dan pergolakan PRRI yang jika pandai dan mau “meramu” bisa menjadi cerita menarik dan takkan habis-habis.

Itulah yang dengan kerendahan hati, namun sungguh-sungguh, saya eksplorasi dan saya eksploitasi, lalu saya paparkan menjadi puluhan cerpen dan novel. Bukankah “alam takambang jadi(kan) guru”?

SGL: Lah tagisia lo awak baliak. Okelah, tangguang basah mah. Saat menulis Tikam Samurai yang kini sedang kami “siar ulang”,Anda kan redaktur dan wartawan Singgalang, lalu mengajar di tiga perguruan tinggi. Apalagi perbuatan awak kala itu?

MH: Sambil nulis cerpen dan novel, saya juga mendedikasikan waktu saya untuk pencak silat Minangkabau, dengan menjadi Ketua Eksekutif IPSI (Pencak Silat) dengan Ketua Umum Pak Djohari Kahar, SH.

SGL: Bagai mana Anda tiba-tiba saja menjadi Ketua IPSI Sumatera Barat?

MH: Sumatera Barat yang ditunjuk langsung oleh Gubernur Pak Azwar Anas kala itu. Memprakarsai Gelanggang Silih Baganti yang selama 10 tahun pelaksanannya bergantian di 10 Kota di Sumbar, telah didatangi oleh pesilat dari 24 Negara Asia, Eropa dan Amerika.

Karena perkembangan silat tradisi yang amat fenomenal itu, pak Azwar Anas mendapat pernghargan Pin emas dari Ketua PB IPSI, semasa dijabat pak Edie Nalapraya. Lalu saya masih memimpin perguran silat Empat Banding Budi yang saya dirikan. Muridnya belasan ribu orang tersebar di Padang, Pariaman, Painan, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Pekanbaru (Riau) dan mendirikan cabang di Amsterdam dan Acheen – Jerman Barat, yang dipimpin anak Patbanbu asal Berok, Padang. Khusus cabang yang di Pasaman Barat didirikan dan dipimpin oleh Fauzi Bahar, yang kemudian jadi perwira di Pasukan Katak (sebelumnya Kipam/Kompi Ampibi) pasukan elit Marinir/AL, kini jadi Walikota Padang untuk masa jabatan kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.