Ada dua hal yang membuatku bangga pada ayahku. Pertama dia seorang anggota Mobrig, singkatan Mobile Brigade. Pasukan elit kepolisian.

Dia kelihatan gagah, baik dalam pakaian dinas tempurnya yang memakai topi baja, maupundalam pakaian dinas harian yang dilengkapi baret berwarna ungu.

Ayahku telah bertempur sejak zaman revolusi, menumpas pergolakan DI/TII di Aceh, Sulawesi Selatan dan terakhir pemberontakan PRRI di Riau Daratan.

Kebanggaanku kedua adalah mendengar bunyi siulnya. Hampir semua warga di gang becek tempat ayah dan ibuku menyewa sebuah rumah petak kecil mengenal dan juga menyukai alunan siulnya. Banyak lagu yang dia alunkan lewat siulnya. Namun yang paling kusukai adalah siulnya saat membawakan lagu Timang-timang.

“Timang-timang anakku sayang”.

Begitu suara siulnya selalu bergema membelah malam atau menerobos gerimis, saat dia pulang dari kantor mengayuh sepeda dinasnya.

Prosesi setelah dia berada di ruang tamu rumah kami, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruangmakan, sudah hafal di luar kepalaku. Dia akan duduk di kursi rotan separoh reot di ruang tamu itu. Kemudian memanggilku untuk membukakan sepatu dinasnya. Membuka tali sepatu yang banyak lobang-lobang di bahagiandepannya itu.

Kemudian memijat kakinya. Malam hari tugasku pula menyemirkan sepatu dan kopelriem. Menggosok kuningan pada kopelriem itu dengan brasso sampai berkilat, untuk dipakai ayah bertugas esok pagi. Tugas rutin itu kulakukan dengan senang hati dari hari berbilang minggu. Minggu berbilang bulan, bulan berbilang tahun.

Aku bangga pada ayahku yang menjadi anggota Brimob, pasukan tempur kepolisian. Bangga pada siulnya yang melankolis, terutama saat mendendangkan lirik lagu Timang-timang.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat aku masih duduk di bangku SMP. Kini, sejak masuk SMA, terutama menjelang ujian akhir, kebanggaanku pada sosoknya yang gagah dalam pakaian dinas punah. Kebanggaanku pada siulnya yang mengalun di sore atau malam hari saat dia pulang bertugas, tak peduli apa pun lagu yang dia siulkan, hilang tak berbekas. Yang tersisa adalah perasaan dongkol dan marah.

Pemicunya adalah pembicaraan ayah dan ibu di suatu malam.

Hari sudah larut, gerimis yang turun sejak sore masih belum reda. Karena besok ada ulangan ilmu pasti, saat itu aku masih belajar di kamarku, dengan penerangan lampu semprong. Dari kamar ayah dan ibu, yang hanya berbatas dinding papan dengan kamarku, sayup-sayup kudengar ibu menangis. Kemudian kata-kata ibu yang diucapkan perlahan.

“Saya tidak minta belikan baju atau perhiasan. Saya tahu gaji abang kecil. Tapi, uang yang sayab terima habis untuk membayar sewa rumah, pembayar uang sekolah dan sesekali memberi Rahman uang jajan. Sisanya untuk makan hari demi hari tak cukup. Kendati hanya untuk membeli minyak lampu, ikan asin, minyak goreng, tahu dan tempe. Saya harus mengutang di warung atau tetangga. Tahun demi tahun seperti itu tentu tak baik untuk pertumbuhan anak. Saya tahu abang menyuruh saya berhemat. Tapi uang yang akan dihemat itu benar yang tak ada,” ujar ibu.

Lama tak ada suara. Kemudian kudengar ayah menarik nafas panjang dan berat. Bangkit dari pembaringan

“Uang mana lagi yang harus aku berikan selain gaji? Aku tak pandai dan tak mau memeras toke-toke untuk meminta uang. Aku juga tak bisa membeking orang-orang yang menyelundupkan getah ke Singapura. Aku bukannya tak tahu gajiku tak mencukupi untuk kehidupan kita. Tapi aku tak punya keahlian lain untuk mencari tambahan,” ujar ayah perlahan.

—-o0o—

PIKIRANKU selalu buncah oleh pertengkaran ayah dan ibu malam itu. Aku kemudian mulai membanding-bandingkan kehidupan kami dengan kehidupan beberapa orang anak anggota Mobrig teman ayah, yang sama-sama satu SMA denganku. Aku tak perlu datang ke rumah mereka untuk melihat perbedaan. Cukup melihat keseharian mereka di sekolah. Dari sana sudah bisa terlihat perbedaan yang mencolok antara kehidupan keluarga kami dengan mereka.

Paling tidak ada tiga orang anak Mobrig yang sama-sama sekolah denganku. Dua lelaki, satu wanita. Pangkat ayahku dengan ayah mereka setara. Kalau di ketentaraan sama-sama berpangkat kopral. Mereka ke sekolah memakai sepeda. Sementara aku harus berjalan kaki menempuh jarak tiga kilometer dari rumah ke sekolah. Namun yang paling mencolok adalah pakaian. Baju atau celana yang kupakai pasti ada tambalannya. Kalau baju ditambal pada krah bahagian leher, kalau celana pada bahagian pantat. Mereka tak pernah sekalipun kulihat memakai pakaian yang bertambal.

Dari perbedaan itu ada perasaan tak sedap mengenai ayah, yang menyelusup diam-diam ke dalam hatiku. Aku menduga ayah pasti mempunyai pendapatan lebih dari gajinya. Sebagaimana teman-teman sepasukannya, yang anaknya satu sekolah denganku. Perasaan tak sedap itu hari demi hari menggumpal menjadi perasaan dongkol. Akibatnya, jika sore-sore kudengar alunan siulnya di ujung gang becek di mana kami tinggal, aku segera mengemasi buku. Menyelusup lewat pintu belakang. Cabut ke rumah teman atau ngeluyurdan begadang di Pasar Bawah atau di Pasar Pusat.

Hal itu kulakukan untuk menghindari pekerjaan rutin yang kini membuat dadaku sesak. Membuka sepatu dan kaos kaki ayah, kemudian memijati kakinya. Malamnya menyemirkan sepatu lars, kopelriem dan membrasso bahagian kuningannya sampai berkilat. Kini, untuk menghindar dari pekerjaan yang tak kuinginkan itu aku sering tidur di rumah teman dengan alasan belajar, karena ujian akhir sudah dekat.

Kendati semuanya bohongku belaka. Yang kulakukan adalah menghindar dari rumah, karena dongkol dan marah pada ayah. Namun ibu ternyata mengetahui alasan perubahan sikapku. Bahwa aku jarang di rumah karena tak ingin membuka sepatu dan memijit kaki ayah. Wanita berhati tabah dan penuh kasih sayang itu menasehatiku agar tidak meneruskan perlawanan diam-diamku kepada ayah. Aku tidak menolak tapitidak pula mengiyakan nasehat ibu. Sampai suatu malam, waktu itu kami bertiga sedang makan.

Di meja ada telur dadar, ada tempe goreng, ada tumis kangkung dan tahu. Wuah mewah benar. Belum tentu sekali setahun dapat makan semewah ini di rumah kami. “Kalau lulus aku masuk masuk kedokteran di Padang…” ujarku tanpa kata pembukaan apapun. Ayah dan ibu menatapku.

“Bagus… belajar yang rajin,” ujar ayah pendek, sambil menyuap.

Sambil mengunyah aku melanjutkan, bahwa kalau lulus tes untuk masuk ke kedokteran harus membayar sejumlah uang.

Saat kusebutkan jumlah uang yang wajib dibayar pada saat mendaftar setelah lulus testing, tangan ayah yang akan menyuap terhenti tiba-tiba. Dia bertukar pandang dengan ibu. Kendati peristiwa itu hanya sesaat, namun aku melihatnya dengan jelas. Setelah itu ayah kembali makan.

Hanya saja, biasanya dia makan sampai dua kali bertambah.Kali ini tak sekalipun. Perkataanku tentang jumlah uang yang harus dibayar untuk bisa menjadi mahasiswa kedokteran seperti mematahkan selera makannya. Aku tak peduli, yang jelas keinginanku sudah kusampaikan. Sebagai seorang ayah dia harus memenuhi kewajibannya.

Aku sendiri sebenarnya tak peduli dengan sekolahku. Jangankan soal bisa atau tak bisa masuk kedokteran, bagaimana lulus ujian saja tak kupikirkan. Ketidak-pedulian itu dapat dilihat dari aktifitasku sehari-hari. Dalam seminggu paling tidak ada dua atau tiga hari aku bolos sekolah. Aku lebih suka keluyuran denganBoby, teman sekelasku yang ayahnya bekerja di Kantor Pajak. Mereka tinggal di rumah dinas di Komplek Nyamuk,

sekitar satu kilometer dari rumahku. Hidup keluarganya tak hanya sekedar kaya, tapi melimpah ruah. Aku sering nebengminjam baju, celana atau sepatu Boby.

—o0o—

TETAPI pertengkaran antara ibu dengan ayah malam itu ternyata membawa perubahan yang luar biasa untuk ukuran keluarga kami. Dalam dua bulan terakhir menu di meja makan tidak hanya tahu dan tempe. Atau goreng ikan asin yangmembuat lidahku serasa jadi tebal dan gatal-gatal. Kini agak sering bervariasi. Terkadang ada telur dadar, terkadang ada gulai ikan. Selain itu, jika selama ini ibu lebih sering mengatakan tak ada uang jika aku minta jajan saat akan ke sekolah, dalam dua bulan terkahir ibu agak sering memberiku uang jajan. Malah terkadang tanpa kuminta terlebih dahulu.

Namun sungguh mati, perubahan mendadak itu justru membuatku jadi curiga. Kenapa tiba-tiba saja ayah bisa memberi ibu uang belanja lebih dari tahun-tahun sebelumnya? Kenapa setelah ada pertengkaran dan air mata ibu? Gaji tentu tak bisa naik tiba-tiba. Itu berarti gaji yang selama ini diberikan ayah kepada ibu hanya sebagian.

Lalu, sebagian lagi dari gaji yang tak diserahkan ayah kepada ibu dia pergunakan untuk apa? Tak hanya gaji. Ayah pasti punya penghasilan sampingan. Aku tahu dari cerita teman-temanku, yang ayahnya juga bertugas di pasukan Mobrig atau di kepolisian. Ayah pasti tak jujur pada ibu. Dia pasti punya isteri simpanan, atau suka berjudi, dan mabuk-mabuk.

Atau mungkin gabungannya. Punya bini simpanan, sekaligus suka judi dan suka mabuk. Aku hampir bisa memastikan, ayah telah membohongi ibu. Dan hal itu sudah terjadi berbilang tahun! Oo, alangkah sakitnya hati ibu jika dia tahu.

Kepada Boby kuceritakan kecurigaanku tentang ayah. Sekaligus mengajaknya untuk mencari tahu tentang perangai ayah. Tak berselang lama, kesempatan untuk memata-matai perangai ayah datang juga. Sehabis magrib kudengar ayah berkata pada ibu bahwa dia akan piket dan pulang agak larut.

Aku punya firasat, alasannya itu omong kosong belaka. Sebab dalam dua tiga bulan ini sudah sering dia pergi sehabis magrib dan pulang larut malam. Bahkan kadang-kadang malah subuh. Alasannya selalu piket.

Aku segera menemui Boby di rumahnya. Menceritakan perihal ayahku. Boby meminjam vespa abangnya yang bekerja di Caltex. Kami bergegas menyusuri jalan yang biasanya ditempuh ayah untuk ke kantornya. Dalam waktu tak terlalu lama ayah bisa kami susul. Dari jarak tak begitu jauh, di bawah cahaya bulan sabit yang mulai muncul, dia kami lihat mengayuh sepeda dinasnya yang berwarna hitam. Aneh, katanya piket. Tapi tak berpakaian dinas dan tak membawa bedil.

“Jangan terlalu dekat. Nanti dia tahu,” ujarku pada Boby.

Ayah ternyata memang tidak menuju ke Markas Mobrig di Sukajadi dimana dia seharusnya piket. Ayah mengarahkan sepedanya kearah Sungai Siak. Kecurigaanku makin menebal. Beberapa ratus meter menjelang sungai, dia berbelok ke sebuah pekarangan rumah yang dipagari dengan kawat berduri.

Boby menghentikan vespanya di bawah pohon gajus yang tumbuh di pinggir jalan. Sekitar dua puluh meter dari jalan masuk ke pekarangan rumah besar berpagar kawat berduri tersebut.

“Kita ikuti ke dalam,” tanya Boby.

Aku ragu. Cahaya bulan membuat kami dapat melihat cukup jelas rumah yang dituju ayahku. Sebuah rumah besar semi permanen beratap seng. Kulihat ada beberapa bendi di halaman. Beberapa beca dan sepeda. Nampaknya rumah itu cukup ramai. Rumah apa ini? Pikiranku jadi tak sedap.

Apakah rumah ini tempat berjudi, atau rumah inikah yang disebut sebagai rumah tempat para pelacur menjajakan diri?

Ya Tuhan!

“Pssst., ada yang keluar…” bisik Boby.

Kami menunggu sambil berdiam diri di bawah pohon gajus berdaun rimbun yang melindungi kami dari cahaya bulan.

Sebuah bendi keluar. Di dalamnya ada dua lelaki dan seorang perempuan. Dari baju yang dipakainya aku tahu lelaki itu bukan ayahku.

“Itu ada lagi yang keluar,” bisik Boby.

Dua buah beca kami lihat bergerak perlahan ke arah pagar. Nampaknya muatan beca itu berat karena sarat dengan kardus-kardus besar. Kentara sekali kedua tukang beca itu harus mengerahkan tenaganya untuk mendayung. Persis di pintu pagar mereka berhenti karena disusul oleh dua lelaki yang berboncengan di sebuah motorpit. Pengendara motorpit itu berhenti di dekat kedua beca tersebut.

“Pelan-pelan saja Pak. Muatannya piring dan gelas dari Singapura. Barang-barang itu akan dibawa ke Bangkinang. Jangan sampai ada yang pecah, ya?” ujar lelaki yang duduk di boncengan motorpit.

“Baik Pak,”ujar salah seorang pengayuh beca tersebut.

“Kami duluan. Kami tunggu di terminal Pasar Pusat,” ujar yang membawa motorpit sembari memasukkan persneling. Kemudian motorpitnya menderu ke arah pasar pusat.

Kedua beca itu untuk sesaat masih tertegak di pintu pagar rumah besar tersebut. “Setelah menerima upah mengantar barang-barang ini aku akan cari penumpang ke rumah sakit. Kau masih akan ke pelabuhan?” tanya salah seorang di antara pengayuh beca itu kepada teman di sebelahnya.

“Ya, aku ke pelabuhan. Malam ini kabarnya ada kapal dari Tanjungpinang yang masuk. Mudah-mudahan ada muatan yang bisa diantar,” ujar lelaki kedua.

Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara lelaki yang akan menuju ke pelabuhan itu. Aku hapal benar. Itu suara ayahku!

“Jangan pulang terlalu larut. Tiap malam pulang subuh, nanti dapat penyakit rabu basah. Kau bakalan tak bisa dinas…” ujar lelaki pertama.

“Anakku sebentar lagi akan ujian akhir. Kalau lulus dia ingin masuk kedokteran di Padang. Aku harus bekerja keras mengumpulkan uang. Agar dia bisa melanjutkan sekolah ke Padang. Bangga punya anak jadi dokter kan?”

“Semoga berhasil. Ayo kita pergi…” ujar lelaki pertama, setelah beberapa saat terdiam.

Mereka mulai mengerahkan tenaga. Menggenjot beca bermuatan berat itu. Makin lama makin jauh dari tempat kami. Lalu, tiba-tiba terdengar suara siul. Melantunkan lagu Timang-timang. Makin lama makin sayup. Siul yang akhir-akhir ini amat kubenci dan menyalakan marah di hatiku.

Siul yang membuatku curiga ayahku berlaku tak jujur pada ibuku. Bahkan malam ini, aku memata-matainya karena ingin menangkap basah dia di rumah isteri simpanannya. Atau menangkap basah dia sedang berjudi sambil menenggak minuman keras.

Kini, lelaki yang kumata-matai itu mengayuh becak dalam pelukan embun yang mulai turun. Mencarikan uang agar anaknya bisa masuk fakultas kedokteran. Aku ingat uang jajan yang akhir-akhir ini sering diberikan ibu. Ingat menu makanan yang berubah di rumah. Aku ingat kata-katanya kepada ibu malam itu.

“Uang mana lagi yang harus aku berikan selain gaji? Aku tak pandai dan tak mau memeras toke-toke untuk meminta uang. Aku juga tak bisa membeking orang-orang yang menyelundupkan getah ke Singapura. Aku bukannya tak tahu gajiku tak mencukupi untuk kehidupan kita. Tapi aku tak punya keahlian lain untuk mencari tambahan”.

Ayah memang tak punya keahlian lain untuk mencari tambahan. Yang ada padanya hanyalah tenaga. Dan tenaganya itulah ternyata yang dia pergunakan. Mengayuh beca sehabis seharian berdinas, untuk mencari tambahan belanja bagi anak dan isterinya. Untuk mencari uang agar anaknya bisa masuk fakultas kedokteran.

Dia semakin jauh mendayung nasibnya dalam deraan dinginnya embun malam. Siulnya seperti masih kudengar sayup-sayup. Melantunkan lirik lagu Timang-timang. Kemarin siul itu amat kubenci. Malam ini siul itu seperti mengiris jantungku. Tubuhku menggigil.

Ingin kupeluk kakinya yang lelah mendayung beca itu. medan pertempuran. Mulai dari zaman revolusi, sampai menumpas pergolakan di Aceh, Sulawesi dan Sumatera Barat. Mendayungkan nasib kami. Seorang anggota pasukan elit kepolisian, yang telah mempertaruhkan nyawanya di berbagai

Kini mengihlaskan dirinya menjadii kuli penarik beca. Untuk mencari tambahan penghasilan dalam menghidupi anak dan isterinya. Aku tak kuasa mengikis rasa berdosaku. Aku tak ingin menangis. Namun aku sungguh tak kuasa menahan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Ya Tuhan, ya Rosul…,Ampun!. @.-

—o0o—

Catatan:
– Mobrig: Kini jadi Brimob. Motorpit: Sepeda motor buatan Amerika merek BSA atau Triumph.
– Pada tahun 1980-an penulis memenangkan beberapa kali sayembar – penulisan cerpen tingkat nasional. Salah satu di antaranya adalah cerpen berjudul “Siul” yang ditulis sekitar tahun 1984.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s