Singgalang, Koran yang Memanggil

Orang Rantau Pulang


Surat kabar SINGGALANG nyaris segala-galanya bagi saya. Inilah Koran pertama yang saya kenal dan saya baca setiap terbit. Inilah Koran yang pengasuhnya menjadikan saya wartawan dengan memberi kartu pers sebelum saya tahu apa yang disebut headline, karikatur, dan rubrik, apalagi rumus baku 5W+1H yang “siang dipakalang, malam dipatungkek” para wartawan sepanjang zaman. Inilah Koran yang pada tahun 1975, empat tahun setelah bekerja di sana, yang mengantarkan saya menjadi lulusan terbaik Penataran Jurnalistik Tingkat Nasional yang dilaksanakan LP3ES & Frederick Stiftung di Jakarta. Menempatkan Putu Setia (Tempo) di urutan kedua, dan Drs. Sumaryadi (terakhir eks Direktur STPDN) di posisi ketiga. Posisi terbaik itulah yang menyebabkan Gubernur Sumatera Barat (Pak Harun Zain) memberi saya hadiah sekapling tanah di Wisma Warta Ulak Karang, dimana rumah saya berada hingga kini.

Semasa bekerja di koran inilah (1974-1986) saya menikah dan empat putri saya lahir dan dibesarkan. Yang tertua tamat Fakultas Ekonomi Unand dan kini bekerja di Bank Riau. Yang kedua tamat Fakultas Sastra (bhs Inggeris) Unand dan kini mengajar di LIA Pekanbaru. Yang ketiga tamat Fakultas Ilmu Pasti (Kimia Murni) ITB dan kini bekerja di Bank Syariah Pekanbaru. Yang bungsu alumni pertama Fakultas Kedokteran Unri, kini bertugas di Pekanbaru. Semasa bekerja di koran inilah saya produktif sekali menulis cerpen yang berkali-kali memenangkan Sayembara tingkat Nasional. Empat di antaranya diangkat jadi cerita film layar lebar (Melintas Badai, Buah Hati Mama, Yang Kukuh Yang Runtuh, Luka di Atas Luka). Cerita-cerita pendek itu kemudian dihimpun dalam kumpulan 12 Cerpen berjudul “Di Langit Ada Saksi”, memakai judul salah satu cerpen yang ada di dalamnya.

Saat yang sama (awal 1980-an) saya melahirkan cerita yang konon amat fenomenal dengan tokoh Si Bungsu, karena dianggap mewakili bangkitnya “Orang Minang” yang selama ini tertindas dan diperhinakan di mana-mana, melalui novel legendaris “Tikam Samurai”. Si Bungsu tidak hanya menghajar dan membantai tentara Jepang yang kejamnya nauzubillah, dia juga menyembelih tentara Amerika yang kejam dan pongah di negeri Jepang yang dijajahnya. Tidak hanya itu, si Bungsu juga membantai tentara PRRI maupun APRI yang memperkosa dan menyiksa rakyat (Minang). Novel yang amat hitam putih. Tapi, konon, cerita itu pula menjadi penyebab kenapa Koran Singgalang menjadi koran paling ditunggu terbitnya di zaman itu.

Novel lain yang saya tulis adalah Palimo Agam, Intan Suri, Logas, Permayo (semua tak ada lagi arsipnya) dan Giring-giring Perak yang konon juga fenomenal. Novel yang terakhir ini bercerita tentang Rampok dan Lanun di Bukit Tambun Tulang serta kecamuk Perang Pariaman di zaman penjajahan Inggeris. Mungkin banyak yang kagum, padahal yang patut dikagumi itu adalah kuartet pemimpin Singgalang kala itu (Nasrul Siddik, Nazif Basyir, Salius dan Basril Jabar) yang memberi saya, dan wartawan Singgalang lainnya, kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri.

Singgalang nyaris segala-galanya bagi saya. Tahun 1970, di saat saya pertama masuk, Nasrul Siddik – Nazif Basyir – Salius dan Basril Jabar sebagai kuartet yang mendirikan dan memimpin Singgalang, selama menjadi “bawahannya” sungguh tak pernah saya melihat mereka marah pada kami-kami yang amat jauh di bawahnya. Sulit bagi saya memikirkan, dimana amarah mereka sembunyikan. Kepada kami yang muda, bagi mereka berempat berlaku benar pepatah Minang “Kendati harimau di perut, kambing juga yang dikeluarkan”.

Hal yang tidak saja amat sulit, tapi tak pernah berhasil saya tiru. Tahun 1987 sampai 1990 saat saya menjadi Pimpinan Redaksi Semangat, ketika ada yang tak berkenan di hati, meski saya telah berusaha sekuat daya menahan marah, namun apa daya “Kendati Harimau di Perut, Singa Garang dan Ganas lagi Kejam jua yang saya keluarkan”. Hal itu sesuai benar dengan sikap saya yang temperamental dan meledak-ledak.

Untunglah pada zaman itu semua racun dilarang diperjual-belikan. Termasuk racun tikus. Kalau tidak, entah apalah yang akan dibuat teman-teman yang sama-sama bekerja dengan saya di Semangat kala itu, di antaranya bernama Khairul Jasmi, Zulnadi, Mafri Amir, Gatot Santoso, Cici, Dian Wijaya, Effendy Koesnar, Yulinur Sadar, Nofri Sastra, Arbaini Ben, Sri Taufik, Helyati, Yeniwarti, Daniwarti dll.

Besar kemungkinan saya mereka racuni enam kali sehari. Atau yang paling mungkin, saking tak tahannya, mereka semua yang pada minum racun. Untunglah saat itu menjual racun benar-benar dianggap pengkhianat negara dan subersiv. Itulah yang menyelamatkan saya, eh, mereka. He..he..he! Tapi syukurlah, mereka tak jadi meracun saya atau meracun diri sendiri, kini mereka sudah pada “menjadi”, sehingga kalau menyapa saya harus menyebut mereka dengan sebutan ”Pak” sembari menundukkan kepala.

Saya jadi wartawan Singgalang dibawa dan diberi kartu pers begitu saja oleh Bang Nazif Basyir beberapa saat setelah dia menyutradarai kami dalam Sendratari Kolosal Imam Bonjol. Saat itu yang jadi redaktur adalah Muchlis Sulin, Yoesfik Helmy, Sekretaris Redaksi Mursal Esten (ke tiganya sudah almarhum) dan Syamsuir Arfi. Saya mengikuti perjalanan panjang dan monumental koran Singgalang, mulai dari kantor amat kecil di perempatan Jalan M. Yamin pindah ke Belakang Olo dan terakhir ke ruko yang dibangun di Jalan Veteran No. 17 sekarang.

Singgalang nyaris segala-galanya bagi saya. Itu salah satu sebab kenapa pada tahun 1986 saya memutuskan bekerja sepenuhnya di koran ini dan berhenti dari PNS setelah menjadi Asisten Dosen selama 12 tahun di FKT-IKIP Padang. Penyebabnya saya sangat sibuk meliput persiapan Pemilu 1987 ke berbagai kabupaten-kota, sehingga tugas mengajar sebagai Asisten Dr. Jalius Jama (mata kuliah Motor Bakar), dan Dr. Mursal Esten (mata kuliah Dramaturgi) di IKIP Padang (sekarang UNP) amat sering terabaikan.

Dua tahun sebelumnya, pada tahun 1984, sebagai wartawan Singgalang saya dibawa Uni Syofyani Yusaf bersama Grup tarinya mengikuti Folk Lore (Festival Tari Rakyat) Sedunia di Prancis, menjelajahi berbagai kota dengan belasan grup tari dari berbagai dunia selama 3 bulan. Di Grup itu saya diposisikan Uni Syofyani dan Uda Yusaf Rahman sebagai salah seorang Official bersama Da Ii Hamzah dan isterinya. Sepulang dari sana saya menulis kisah perjalanan di Prancis di surat kabar Singgalang, perjalanan yang ditutup di Kedutaan Besar RI di Paris dalam resepsi HUT Kemerdekaan.

Di akhir jadwal Folk Lore isteri saya datang sendirian ke Prancis. Saya terpaksa celingak-celinguk mencarinya di bandara Charle de Gaule yang besarnya hampir sama dengan Kota Padang. Untunglah ketemu. Ketika Tim Uni Ani kembali ke tanah air, saya dan isteri melanjutkan perjalan ke London, Inggeris. Di Prince Garden, London, persis di sebelah kanan kalau kita menghadap Buckingham Palace (tempat bobok Ratu Elizabeth) saya buka baju dan celana, di bawah suhu 14 derajat Celcius dengan hanya berkolor saya minta isteri saya memoto.

Itu untuk memenuhi nazar saya ketika berada di Bali Tahun 1975 saat melihat banyak bule yang telanjang di Sanur. “Awas kalian, kalau nanti saya ada di negeri kalian saya juga akan bertelanjang”, sumpah saya. Nah, di Prince Garden itulah nazar itu saya bayar, kendati isteri saya terpekik-pekik mengucapkan kata “Gilo…lah gilo awak..!” tapi akhirnya dia tetap memoto di bawah tatapan puluhan mata bule yang terheran-heran. Kalau para bule beraninya hanya bertelanjang di pantai, saya justru nyaris telanjang di samping istana ratu mereka. Rasailah!

Bayangkan, Tahun 1984 karena Singgalang saya bersama isteri bisa menginjak-nginjak Prancis dan London!. Itu sebab kenapa Singgalang nyaris segala-galanya bagi saya. Di atas segala yang saya ceritakan di atas, koran Singgalang bagi saya telah ikut menanam pondasi yang amat kukuh bagi kembalinya harkat, martabat dan harga diri orang Minang yang luluh lantak selama pergolakan PRRI. Tahun 1964 – 1965, saat saya sekolah di STM Negeri Bukittinggi, bahasa Minang menjadi bahasa “orang kalah” di tengah pergaulan. Orang akan terkencing-kencing bila ada OPR yang membentak dengan bahasa Indonesia :”Apa yang kamu lihat!”. Itu baru OPR, apalagi tentara atau polisi. Padahal OPR, tentara atau polisi yang membentak dengan bahasa melayu tinggi itu juga orang Minang, hanya beda posisi. Yang dibentak warga kalah perang, yang membentak “Orang Pusat” yang menang perang. Sukur-sukur kalau hanya dibentak, biasanya jika salah lihat mereka suka main gampar!

Koran Singgalang-lah yang kemudian tampil paling depan mempergunakan kembali bahasa Minang, nyaris di seluruh baris berita dan ceritanya! Jauh sebelum, terutama selama pergolakan, ribuan orang Minang eksodus ke rantau, meningglkan kampung halaman dan tatanan sosial mereka yang luluh lantak dilanda perang. Melalui Singgalang, yang kala itu menyebar ke berbagai penjuru nusantara, mereka seperti “menemukan” kembali kampung halamannya, paling tidak Singgalang mengobat kerinduan mereka pada kampung halaman yang sudah lama mereka tinggalkan. Dalam banyak kasus, Singgalang-lah yang berhasil memanggil banyak perentau pulang untuk kembali membangun kampung halamannya.

Saya bermimpi dan berdoa, cepat atau lambat provinsi ini berubah nama menjadi Provinsi Minangkabau, sebagaimana pernah saya minta Alwi Karmena melansirnya dikoran. Sumatera Barat bukan nama, tetapi sekedar penunjuk letak sebagaimana Sumatera Utara karena di Utara, Sumatera Selatan karena di Selatan. Hanya penunjuk letak bukan nama seperti Riau, Aceh, Jambi, Bengkulu atau Lampung. Bagi saya, koran Singgalang telah dan akan tetap menjadi monumen yang kukuh dalam perjalanan sejarah bangkitnya orang (Minang) Sumatera Barat sebagaimana diinginkan Gubernur Harun Zain kala itu, dari keterpurukan mental yang luluh lantak paska pergolakan. @makmur hendrik, kini berdomisili di Pekanbaru – Riau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s